Istilah job hopping atau hobi berpindah-pindah kerja sering kali melekat pada Generasi Z. Bagi para manajer dari generasi sebelumnya, fenomena ini mungkin terlihat seperti kurangnya komitmen. Namun, jika kita bedah lebih dalam, Gen Z sebenarnya bukan tidak setia; mereka hanya memiliki standar baru dalam mendefinisikan "tempat kerja yang ideal."
Sebagai pemimpin di era digital, tantangan kita bukan lagi sekadar memberi perintah, melainkan membangun ekosistem yang membuat mereka merasa worth it untuk bertahan. Berikut adalah strategi jitu untuk memimpin tim Gen Z atau managing Gen Z agar tetap loyal dan produktif.
1. Pahami Bahwa Flexibility is King
Bagi Gen Z, kerja bukan soal duduk di kubikel dari jam 9 ke jam 5. Mereka sangat menghargai keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance). Oleh karena itu, menawarkan sistem kerja hybrid atau jam kerja yang fleksibel adalah kunci utama. Selama target tercapai (output-based), berikan mereka ruang untuk mengatur ritme kerjanya sendiri. Dengan demikian, mereka akan merasa dipercaya dan lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya.
2. Jadilah Mentor, Bukan Sekadar Bos
Gen Z haus akan pengembangan diri. Mereka tidak ingin terjebak dalam pekerjaan yang stagnan. Oleh karena itu, posisikan diri Anda sebagai mentor yang peduli pada jenjang karier mereka. Berikan feedback secara rutin—bukan cuma setahun sekali saat penilaian kinerja. Selain itu, tunjukkan bahwa ada ruang bagi mereka untuk belajar hal baru (up-skilling) agar mereka merasa masa depannya terjamin di perusahaan Anda.
3. Bangun Culture yang Authentic dan Inklusif
Generasi ini punya radar yang sangat tajam terhadap kepalsuan. Mereka mencari budaya kerja yang transparan, inklusif, dan memiliki value yang sejalan dengan prinsip pribadi mereka. Selanjutnya, pastikan komunikasi di dalam tim berlangsung dua arah. Jangan ragu untuk melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan atau sekadar mendengarkan ide-ide kreatif mereka yang sering kali out of the box.
4. Optimalkan Teknologi dan Efisiensi
Memimpin generasi yang sangat melek teknologi berarti Anda harus memangkas birokrasi yang ribet. Singkatnya, jika suatu pekerjaan bisa diselesaikan dengan aplikasi kolaborasi seperti Slack, Notion, atau Trello, jangan paksa mereka melakukan rapat panjang yang sebenarnya bisa lewat e-mail. Efisiensi adalah bahasa cinta bagi Gen Z; mereka akan sangat menghargai manajer yang menghargai waktu mereka.
5. Apresiasi yang Lebih dari Sekadar Gaji
Gaji memang penting, tapi bagi Gen Z, recognition atau pengakuan jauh lebih bermakna. Maka dari itu, jangan pelit memberikan pujian atas pencapaian kecil sekalipun. Apresiasi yang tulus menciptakan ikatan emosional yang kuat. Ketika mereka merasa dihargai secara personal, keinginan untuk job hopping akan berkurang secara signifikan karena mereka merasa telah menemukan "rumah", bukan sekadar kantor.
Managing Gen Z Dalam Membangun Loyalitas, Bukan Hanya Dengan Cara Menaikkan Gaji
Menghadapi era job hopping memerlukan adaptasi gaya kepemimpinan yang lebih empati dan melek digital. Dengan fokus pada fleksibilitas, pengembangan diri, dan budaya yang transparan, loyalitas Gen Z bukan lagi hal yang mustahil untuk didapatkan.
Apakah tim Anda masih kesulitan mengelola jadwal evaluasi kinerja secara rutin? Gunakan fitur Performance Management dari Nusawork untuk menjadwalkan sesi feedback yang lebih teratur, transparan, dan terdokumentasi dengan baik. Coba Gratis Sekarang